2 Hal Ini Harus Kamu Miliki Jika Ingin Berhasil (Resume Sharing Saya di 3 Kota)

Dalam satu minggu ini, saya dapat kesempatan untuk sharing, memberikan motivasi sukses di depan para siswa SMA di 3 kota: SMA N 1 Tuban, SMA 1 Pekalongan, dan Perkumpulan OSIS SMA-SMA di Bekasi.

Sharing dan motivasi ini adalah salah satu bagian dari event yang diadakan oleh kantor-kantor cabang Prime Generation (Integrative Bimbel) ke sekolah-sekolah di kota mereka.

Pada intinya, saya diminta untuk berbagi tips & trick bagaimana menjadi pelajar yang berprestasi dan juga berkarakter. Alhamdulillah track record pendidikan saya dari SD hingga S1 bisa dibilang cemerlang. Minimal itu penilaian dari saya sendiri, hehe, tapi faktanya memang demikian sih, wkwk.

Salah satu yang saya highlight adalah bagaimana kehidupan plus perjuangan belajar di SMA Taruna Nusantara, Magelang. Jika selama SD dan SMP, ranking akademis di kelas begitu didewa-dewakan dan manis untuk diperjuangkan, maka di SMA TN ini sedikit berbeda. Akademis hanya salah satu dari 3 parameter prestasi siswa, dua lainnya adalah kepribadian dan kesamaptaan jasmani.

Selain otaknya pintar, kepribadiannya haruslah baik, dan badannya harus sehat & kuat. 

Nah, poin inilah yang saya coba share setiap kali ada kesempatan berbicara di depan para siswa SMA. Terutama bagi mereka yang berada di kelas 2 dan 3, yang sudah mulai ambil ancang-ancang masuk ke Perguruan Tinggi.

Ada 2 hal yang sebetulnya menjadi kunci keberhasilan masuk ke Perguruan Tinggi yang kita inginkan. Keduanya perlu diupayakan. Yang pertama adalah kepandaian, dan yang kedua adalah keberuntungan.

Tidak hanya pandai, kita juga harus beruntung. Mengapa?

Karena sepintar apapun kita, sematang apapun persiapan kita untuk menghadapi ujian seleksi PTN, kalau pada saat ujian tiba-tiba kita jatuh sakit, kan repot. Rumus yang udah ngelotok di kepala, konsep-konsep yang udah kita kuasai, akhirnya buyar begitu saja. 

Sedangkan orang beruntung, walaupun jarang belajar, persiapan seadanya, bisa saja waktu ujian dia hoki banget, soal-soal yang keluar adalah yang persis dia sudah pelajari, atau ‘tembakan’ di pilihan gandanya 100% tepat, padahal cuma asal ‘nembak’. Akhirnya dialah yang nilainya lebih tinggi daripada orang yang pintar.

Pilih mana? Pandai atau beruntung? – Pertanyaan ini saya lemparkan ke para siswa SMA tersebut. Dan sebagian besar menjawab: mereka ingin jadi yang beruntung. Padahal prosentase orang yang benar-benar beruntung itu juga mungkin hanya 0.001%.

Jadi, sekali lagi, kita tetap butuh pandai, di samping juga butuh keberuntungan.

Bagaimana cara menjadi orang pandai? 

Simpel, belajar keras dan belajar cerdas. Kenali kekuatan dan kelemahan diri – misalnya, kuat di matematika, lemah di IPA, dsb. Setelah itu, kelemahan dan kekuatan itu dimanage, mata pelajaran yang kuat dan kita suka bisa dimantapkan, sedangkan mata pelajaran yang kita lemah sebaiknya segera dilakukan remedial.

Lalu, bagaimana menjadi orang yang beruntung? 

Sederhana, jadilah orang baik. That’s it. Baik-baik dengan orang tua, baik-baik dengan guru, dengan saudara, dengan teman, dengan siapapun. Agar kita bisa mengumpulkan doa dari mereka semua. InsyaAllah doa-doa itu yang akan membantu kita mendapatkan keberuntungan, dalam bentuk apapun, dalam kondisi apapun. Joss kan?

Saya pun merasa gak pinter-pinter amat, apa yang sudah saya capai saat ini (walaupun perjalanan masih panjang dan masih terus berproses) saya akui bukan karena kemampuan saya semata, melainkan juga karena doa orang-orang tersayang, khususnya doa orang tua. Ayah saya beberapa kali mengingatkan agar saya jangan terlalu bangga diri, karena di balik segala prestasi dan pencapaian, ada doa ibu yang setiap hari terlantun dan tertuju pada anaknya.

Nilai-nilai inilah yang perlu selalu kita pegang agar bisa tetap rendah hati, bahkan saat sudah sukses besar sekalipun. Seperti seorang cendikiawan yang tetap low profile dan rela membagikan ilmunya, seperti orang kaya yang tetap sederhana bahkan terus menyedekahkan hartanya, seperti artis yang tetap bisa jadi good role-model dan selalu ingat bahwa ia besar karena fans-nya, dan contoh-contoh lainnya.

Dunia ini pasti bakal adem jika dipenuhi orang-orang seperti itu. Will you? 

Maaf, Saya Tidak Menulis Buku, Tetapi Membuat Playbook!


Salah satu target masa muda saya - menulis buku - akhirnya bisa terwujud.

Syukurlah, proses dari mulai penulisan hingga terbit buku ini terasa cepat dan hampir tidak ada halangan yang berarti. Ini karena saya tidak menulisnya dari nol, tetapi sebagian besar ide dan tulisan di buku ini sudah pernah saya tulis di blog. Sehingga ketika tiba waktunya menyusun naskah ke penerbit, saya tinggal mengumpulkan, merevisi seperlunya, dan menambahkannya dengan beberapa konten terkini.

Bukan hanya itu. Saya juga bersyukur karena naskah yang dikirim ke editor saat itu tidak mengalami proses penolakan bertubi-tubi seperti pengalaman sebagian penulis baru lainnya.

Sekali kirim, langsung dapat approval untuk diterbitkan. Alhamdulillah.

Judulnya 'Creative Playbook - Rahasia Berpikir Kreatif dengan Cara Menyenangkan Sekaligus Efisien'. Buku ini tidak seperti buku kebanyakan. Bahkan saya sendiri tidak menganggapnya sebagai sebuah buku, melainkan sebuah 'playbook'.

Mengapa?

Karena saya ingin para pembaca tidak hanya melakukan aktivitas membaca, tetapi juga bisa bermain di dalamnya. Bermain dengan buku ini. Sehingga harapannya, tidak hanya ilmu praktis saja yang akan didapatkan, tetapi juga 'experience' yang menyenangkan, sehingga isi playbook ini menjadi mudah dipelajari dan diingat.

Kata kuncinya adalah: Reading, Playing, and Having Fun.

Sesuai dengan judulnya, letak kekuatan playbook ini adalah pada pola kreativitas yang saya harap bisa sangat membantu Anda dalam proses berpikir kreatif, mulai dari mulai menemukan problem, mencari ide, hingga bagaimana memoles, merencanakan, dan menjamin ide itu bisa terealisasi.

Karena ide itu tak boleh hanya WOW, tetapi juga harus WORKS.

Yang menarik, playbook ini tidak membahas soal kreativitas saja. Saya baru sadar setelah membacanya sendiri (padahal saya penulisnya), bahwa ternyata di dalamnya juga kental akan konten bisnis, branding, marketing, sampai manajemen, bahkan psikologi. Koq bisa ya saya baru sadar kalau isinya sekomplit itu justru ketika sudah selesai menulisnya?

Mungkin karena gaya menulis saya yang mengalir begitu saja seperti orang bercerita. Mungkin juga dipengaruhi oleh background pengalaman dan pekerjaan saya di dunia bisnis selama ini yang turut memperkaya isi playbook ini dengan hal-hal tersebut.

Maka dari itu, Creative Playbook ini saya persembahkan untuk siapa pun Anda. Apapun profesi Anda. Baik yang berkecimpung di bidang kreatif, maupun bagi yang sedang mengabdi di industri yang mungkin sudah terlanjur ter-frame sebagai bidang pekerjaan yang formal / kaku / non-kreatif. Justru saya sangat merekomendasikan orang-orang di bidang tersebut untuk segera mencari buku ini sebelum menyesal.

Mengapa bisa begitu?

Baca saja playbook-nya, nanti juga Anda akan mengerti.

My Meeting With The Founders Camp Singapore


Tadi siang, saya bertemu dengan Mr Deny, co-founder dari The Founders Camp (TFC) Singapore. Setelah menjemput beliau di Bandara Adisucipto Yogyakarta, kami langsung menuju ke sebuah cafe di daerah Kotabaru. Di sana, sambil makan siang, kami berdiskusi seputar program TFC Singapore yang akan dijalankan di Indonesia.

Singkatnya, The Founders Camp adalah sebuah support system yang membantu startup dalam mendapatkan akses pendanaan, bantuan hukum, dukungan expertise, juga ekosistem yang positif untuk mempercepat pengembangan usaha.


Misinya adalah melahirkan startup-startup berkualitas yang punya daya saing global melalui program pendampingan atau mentorship dari segi finance, marketing, manpower, engineering, dan sebagainya, sampai akhirnya (jika memang sudah siap) membantu mereka untuk pitching dengan angel investor. 

Jadi, The Founders Camp ini punya fungsi sebagai advisor sekaligus mediator antara startup dengan pemodal maupun partner strategis lainnya yang dapat membantu kemajuan startup didikan mereka.

Setahun belakangan ini, setiap bulannya, TFC mengadakan pitching di kantor mereka di Singapura. Tentu diawali dengan seleksi terlebih dahulu. Pertama, startup harus mengirim business proposal yang secara singkat menggambarkan business model mereka, keuntungan dan resiko bisnis, proyeksi finansial, dan jumlah pendanaan yang diharapkan. 

Setelah dinyatakan lolos, peserta diharuskan mengikuti coaching di Singapura sambil diseleksi mana yang pantas untuk pitching. Startup yang berhasil melalui seleksi saat coaching ini akan diberi kesempatan untuk presentasi selama kurang lebih 40 menit di depan para investor di Singapura dengan potensi funding 50.000 - 200.000 SGD.


Apakah hanya startup dari negara mereka saja yang boleh ikut program ini?

Kabar baiknya, TFC mulai melebarkan sayapnya ke Indonesia. Mereka sadar bahwa potensi para startup di Indonesia sangat besar. Orang Indonesia itu kreatif-kreatif, dan secara keahlian pun gak kalah dengan negara lain. Sayangnya, akses ke funding, bantuan teknis, network strategis, juga akses ke pasar global masih dirasa kurang. 

Masalah lainnya adalah kemampuan menjual di depan calon investor yang masih harus diasah lagi. Menurut Mr Deny, banyak startup Indonesia yang sebetulnya punya produk bagus tapi tidak mampu meyakinkan pemodal bahwa produknya layak di-funding, entah karena kendala bahasa, teknik presentasi, atau bahkan masalah mental. Inilah yang ingin TFC coba bantu.


Sebagai proyek awal, September lalu TFC bekerja sama dengan Business Indonesia Singapore Association (BISA) sudah mulai membuka pintu bagi startup dari Indonesia yang tertarik untuk ekspansi ke luar negeri melalui Singapura sebagai business hub-nya. Rencananya, akan ada proyek-proyek lanjutan seperti itu yang akan mereka adakan lagi kira-kira dalam beberapa bulan ke depan dari sekarang. 

Melalui meeting singkat tadi siang, saya bersama rekan-rekan di Jogja diminta untuk men-sounding-kan berita ini sekaligus membantu meng-organize acara mereka yang nantinya akan diselenggarakan di Jogja (sebagai awal) yang mungkin akan berlanjut ke kota-kota lainnya. Di acara tersebut, TFC akan berbagi wawasan plus menerangkan bagaimana startup bisa go global secara step by step dengan lebih jelas.

Saya sih langsung kepikiran ngadain acaranya di Jogja Digital Valley karena komunitas startup di sana sudah lumayan terbentuk. Makanya, setelah meeting selesai tadi, saya langsung antar Mr Deny untuk mampir ke sana. Dan beliau cukup tertarik.

Mau ikutan acaranya? Hmmm.. Tunggu update selanjutnya ya :)

Menginap di Hotel Berbintang Cuma Bayar Rp 70.000? Bahkan Gratis??


Saudara saya happy banget bisa nginep di salah satu hotel berbintang di Jakarta dengan harga cuma 70 ribu semalam. 

Apalagi, gak perlu pake booking jauh-jauh hari sebelumnya. Malah bisa dibilang, proses pesannya dadakan banget. Dia memesan kamar hotel tersebut (via online) di hari yang sama, hanya beberapa jam sebelum check-in, sesuatu yang jarang bisa diakomodir oleh web pemesanan hotel online atau jasa travel agent pada umumnya. 


Biasanya, untuk urusan booking kamar dadakan seperti itu, tamu diharuskan pesan langsung ke hotelnya dengan konsekuensi sulit dapat best price karena diberlakukan harga walk-in, harga yang kurang menarik bagi mereka yang sebetulnya hanya butuh tempat untuk tidur selama beberapa jam saja.

Kembali ke cerita saudara saya tadi. Singkatnya, dia mendapat dua benefit: 1. bisa pesan hotel dadakan, 2. harganya bikin ngiri. Hehehe. Mengapa bisa begitu?

Selain memang karena hoki, benefit itu didapat karena ia juga ng-install Hotel Quickly - mobile application yang memudahkan kita untuk melakukan pemesanan kamar hotel last minute dengan harga paling rendah. 


Aplikasi ini mulai populer di Indonesia beberapa tahun lalu, terutama di kalangan business traveller, atau profesional yang sering meeting mendadak ke luar kota, atau mereka yang tiba-tiba memutuskan untuk weekend gateway tanpa persiapan booking penginapan beberapa hari sebelumnya. Atau mereka yang suka ketinggalan pesawat dan baru dapet tiket go show besok paginya, kan kudu cari hotel dadakan juga kalo begitu.

Sebetulnya, berawal dari insight itulah Hotel Quickly ini didirikan. Business traveller, weekend gateway-ers, dan dadak-ers lainnya adalah suatu niche market yang selama ini belum digarap serius oleh penyedia jasa pemesanan hotel online. Kebutuhan mereka sangat berbeda dengan kebutuhan family traveller atau penikmat tourism terencana yang masih punya waktu untuk booking kamar hotel jauh-jauh hari sambil membandingkan harga hotel satu dengan lainnya. 

Kebutuhan para dadakers tentu lebih spesifik: saya butuh kamar hotel saat ini juga, tolong sediakan beberapa pilihan saja (tapi tetap recommended) karena saya tak punya banyak waktu untuk membandingkannya, dan berikan penawaran harga terbaik. Sip?

Dan, kebutuhan tersebut berhasil dipenuhi oleh Hotel Quickly.



Okay, jadi, dari mana harga 70 ribu permalam tadi? Selain dapat potongan harga di awal pemesanan (bisa sampai 30% diskonnya), saudara saya ternyata juga sudah mengumpukan beberapa credit point yang membuat potongan harganya semakin besar.Finalnya, dia cuma keluar budget 70ribu. Bisakah gratis? Bisa kalau memang kredit yang dikumpulkan sudah senilai atau lebih besar dari harga kamar hotelnya.

Untuk mengumpulkan credit point tersebut, caranya cukup mudah, salah satunya dengan share aplikasi ini ke teman-teman kita. Setiap share di akun social media, kita mendapatkan kredit Rp 10.000,-, itu baru share, belum ngomongin kalau teman-teman socmed kita ikut download dan menggunakan link afiliasi kita. Kredit kita bakal nambah lagi.

Menariknya, Anda pun bisa langsung mendapatkan kredit Rp 130.000,- (seratus tiga puluh ribu rupiah) sesaat setelah mendownload aplikasinya. Caranya? Download di iOS, BB10, atau Android Anda, atau lebih simpelnya klik DI SINI. Setelah membuka aplikasi dan melakukan registrasi, buka menu CREDITS > REDEEM VOUCHER. Kemudian akan muncul perintah INSERT A PROMO CODE, masukkan kode ini: TMUHAMM lalu tekan REDEEM. 


Jika sudah, coba cek di credits, insyaAllah 130ribu-nya langsung masuk ke akun Anda. Nah, 130ribu itu bisa langsung dipakai untuk voucher kamar, atau teruskan saja mengumpulkan kredit tambahan dengan membagikan kode promo ke teman-teman.

Strategi credit point inilah yang semakin memuluskan jalan Hotel Quickly untuk masuk ke setiap negara, tak terkecuali Indonesia. Dalam kurun waktu 2,5 tahun terakhir, mereka berhasil membuka kerjasama dengan 1000+ hotel yang tersebar di 40+ kota di Indonesia. 

Beberapa tahun terakhir ini, pertumbuhan jumlah pengguna mobile phone di Indonesia lagi bagus-bagusnya. Begitu pula pertumbuhan pariwisata dalam negeri. Iklim yang pastinya menguntungkan bagi Hotel Quickly.

Model bisnis Hotel Quickly memang disruptive. Meskipun masih seumur jagung, inovasinya cukup mengganggu dan menggoyang peta permainan bisnis agen travel. Kita lihat saja perkembangannya beberapa tahun ke depan. Bisakah menjelma jadi market leader dalam jasa pemesanan hotel berbasis aplikasi? 

Atau bakal muncul kompetitor yang lebih agresif?

Yang pasti, industri ini bakal semakin menarik :)

*callback* Yang masih mau 130ribu, klik DI SINI aja :D

Story From Cannes Lions


Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2015 ini saya tidak sempat mengikuti seminar kreatif tahunan Pinasthika yang diselenggarakan 17-19 September lalu. Padahal kata orang-orang yang pada ikutan, Pinasthika tahun ini terasa lebih spesial dari biasanya. Di samping peserta seminar yang jauh lebih ramai dari tahun lalu, materi dan event-event pelengkapnya pun memang terasa fresh, creative (of course) dan up to date.

Tak sempat hadir, akhirnya saya mengirim 'delegasi' untuk datang ke sana. Tugas utamanya satu: mendengarkan presentasi dari para pembicara seminar, dari pagi sampai sore, sambil membuat resume materi yang nantinya harus diberikan kepada saya. Ngomong-ngomong, delegasi saya ini masih anak SMA yang hari itu bersedia bolos sekolah demi dapet ilmu di Pinasthika. Kenapa dia mau? Ya jelas karena seminarnya lebih menarik daripada pelajaran di sekolah, plus karena tiketnya saya yang bayarin. Hehe.

Kalau mau tau siapa orangnya, dateng aja ke blognya yang punya konten super kritis dan disruptive untuk ukuran anak SMA: www.filosofikerja.com

Dia pun melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Saya tak menyangka hasil resumenya begitu kaya. Salah satunya akan saya share di tulisan ini. Sharing dimulai.

Story From Cannes Lions
Pembicara: Lucy Novita (Hakuhodo Indonesia)
Beliau adalah juri Cannes Lions wanita pertama dari Indonesia

Yang belum tau, Cannes Lions adalah award show dan festival tahunan terbesar di dunia untuk para profesional di industri komunikasi kreatif. Menurut data dari Mbak Lucy Novita yang baru aja jadi juri di sana, tahun 2015 ini Cannes menerima 3500-an entry untuk video campaign, disaring jadi 200an finalis, dan terpilih 90 juara (35 bronze, 30 silver, dan 25 gold).

As usual, video-video ads tembusan Cannes memang sering bikin geleng-geleng, surprise, takjub, dan kadang bisa bikin 'misuh-misuh' (ngumpat) saking keren idenya. Beberapa di antaranya bisa Anda tonton di bawah ini. Selamat menikmati dan geleng-geleng, takjub, tapi jangan sampai 'misuh-misuh' ya.


Inactivity Tracker - sebuah tracker untuk orang yang rajin olahraga super males. 


L'oreal Makeup Genius - aplikasi Augmented Reality buat nyobain makeup tanpa nyobain makeup beneran. Nah lo, maksudnya gimana? Tonton aja deh.


Canal+ Interactive Form - bisakah form pendaftaran subscriber di internet dibuat tidak membosankan?


Holograms For Fredoom - dilarang demonstrasi rame-ramean ke jalan, akhirnya bikin demo hologram, gokil.


The Salt You Can See - bagaimana agar orang Argentina aware untuk mengurangi konsumsi garam demi kesehatan yang lebih baik?


Gimana? Keren-keren kan? Masih ada beberapa lagi videonya, tapi untuk kali ini, saya cukupkan sekian. Kepentok durasi soalnya, halah. Yang mau presentasi (sangat) singkat dari seminar Pinasthika kemarin plus link video lainnya, isi kotak komen di bawah ini ya :) 

Fenomena Pasar Ceruk, Dari Indomie Sampai Hotel Quickly


Dalam praktik bisnis, khususnya dalam penentuan target market, kita mengenal istilah pasar ceruk. Yakni pasar yang kecil, atau lingkup pasar spesifik yang berisi calon konsumen tertentu dengan kesamaan selera, kebutuhan, daya beli, geografi, gaya hidup, atau hal-hal spesifik lainnya.

Misalnya, saat menjadi finalis Start Up Icon di Bandung, saya berkenalan dengan seorang finalis lain yang mempunyai salon khusus untuk orang-orang berambut gimbal. Mulai dari menerima jasa ‘nggimbalin’ rambut, sampai dengan perawatan berkalanya. Kalau saya yang berambut biasa-biasa ini datang ke salonnya, sekedar minta cukur rambut, sudah pasti ditolak, karena saya bukan target market mereka, saya bukan ceruk yang mereka sasar. Ceruk mereka adalah orang berambut gimbal.

Apakah salonnya laris? Jawabannya: iya. Ternyata para gimbalers kota Bandung itu jumlahnya lumayan banyak. Mereka merasa ‘terakomodir’ sehingga jadi pelanggan setia salon tersebut. Sejak saat itu saya sadar akan 2 hal ini: pertama, bisnis yang pasarnya sangat ceruk itu diam-diam menarik juga, dan yang kedua,  ternyata orang gimbal juga butuh perawatan rambut! Hehe.

Kalau kita amati, semakin ke sini, ceruk-ceruk pasar semakin banyak yang bermunculan. Dan makin spesifik!

Es krim yang dulu hanya didominasi rasa cokelat, vanilla, dan stroberi, sekarang makin variatif: es krim rasa kelapa-jeruk, candy-corn, green tea, dan cheesecake dengan penggemarnya masing-masing.

Dulu, kita hanya mengenal ceruk orang-orang yang doyan makan Indomie. Titik. Sekarang kita mengenal ceruk Indomie-lover yang lebih sempit lagi: orang yang suka Indomie rasa rendang, orang yang suka Indomie rasa cabe hijau, kare, bulgogi, tomyum, dan rasa spesifik lainnya. 

Kebutuhan dan keinginan konsumen yang semakin berkembang dan beragam telah mendorong lahirnya ceruk-ceruk baru yang tak terpikirkan sebelumnya.

Namun, ceruk-ceruk pasar tersebut tidak akan muncul dengan sendirinya. Tentu diperlukan riset dan kejelian dalam mengamati perilaku konsumen, menemukan kebutuhan mereka yang belum terakomodir, ataupun masalah yang belum terselesaikan. Selain itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi untuk membuat sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan dan masalah tersebut.

Saya punya contoh menarik yang dilakukan oleh aplikasi pemesanan kamar hotel last minute bernama Hotel Quickly.

Tidak seperti aplikasi pemesanan kamar lainnya yang membidik pasar keluarga dan traveler biasa yang cenderung memesan hotel dari jauh-jauh hari dan masih sempat untuk banding-bandingin harga, Hotel Quickly menarget pasar yang lebih khusus, yakni business traveler, atau siapapun yang karena kondisi tertentu membutuhkan pemesanan hotel secara mendadak.

Hotel Quickly menyadari bahwa banyak profesional atau pelaku bisnis yang tiba-tiba harus meeting mendadak ke luar kota, dan kadang harus menginap di kota itu karena meeting sampai larut malam, atau sebagian karena ketinggalan pesawat sehingga terpaksa  harus cari penginapan di sekitar bandara. Atau orang-orang kantor yang tiba-tiba memutuskan untuk weekend gateway, tanpa persiapan dan pesan penginapan jauh-jauh hari sebelumnya, Hotel Quickly hadir untuk menjadi solusi.

Jika agen travel atau jasa-jasa pemesanan hotel lainnya kesulitan dalam melakukan pemesanan kamar hotel pada hari yang sama, Hotel Quickly mengklaim bahwa mereka lah 
jagonya. Pesan kamar hotel hari itu juga, bahkan di menit-menit terakhir? Bisa!

It’s a last minute hotel reservation service.

Kejelian dalam melihat peluang, plus kemampuan mereka dalam men-deliver service-nya itulah yang membuat Hotel Quickly jadi penguasa ceruk pasar berisi orang-orang ‘dadakan’ 
yang sudah saya jelaskan di atas.

Bagaimana dengan Anda? Observasi apa yang sudah Anda lakukan? Ceruk baru apa yang menarik untuk digarap? Share di kotak comment ya!

Semoga bermanfaat!

PS: Pada artikel selanjutnya, insya Allah saya akan bahas lebih detail bagaimana strategi agresif Hotel Quickly sehingga cukup berhasil melakukan penetrasi pasar di Indonesia dan mampu menghimpun kerjasama dengan 1000+ hotel dari 40+ kota di Indonesia. Makanya, subscribe ya agar dapat update-an nya langsung ke email Anda. Isi kotak berlangganan yang sudah saya sediakan di bagian sidebar, atau berada di bawah artikel ini (jika Anda mengakses via mobile).

Combine, Combine, and Combine!


Jika kreativitas itu sebuah agama. Pasti dalam kitab sucinya ada satu ayat yang bunyinya seperti ini: "Wahai orang yang kreatif, gabungkanlah 2 hal yang (jauh) berbeda menjadi satu."


Itu adalah salah satu pola kreativitas terpopuler yang sampai sekarang masih sering dipakai, dalam berbagai bentuk dan tujuan. Saya akan tunjukkan beberapa masterpiece yang sebetulnya dihasilkan dari teknik menggabungkan 2 hal yang berbeda menjadi satu.


Yang pertama datang dari ranah desain produk. Sebuah masterpiece buatan orang Indonesia. Inilah yang terjadi saat lampu meja digabungkan dengan wayang golek. 


What? 


Iya, wayang golek.

Namanya Lampu RUNA
Suami istri, namanya Noro dan Intan, yang sama-sama pencinta design, pada awalnya hanya memproduksi lampu meja standard, tetap bagus dan berkelas sih, tetapi belum benar-benar unik. Hingga suatu saat mereka terpikir untuk melakukan sebuah terobosan. Kebetulan juga, saat itu mereka mengetahui bahwa banyak pengrajin wayang golek di Subang yang sebetulnya sangat ahli memahat kayu tetapi kurang produktif.
Noro & Intan. Owner Lampu RUNA.

Akhirnya mereka merangkul para pengrajin tersebut untuk bersama-sama membuat lampu meja yang dikombinasikan dengan seni pahat kayu ala wayang golek, sehingga terbentuklah karakter-karakter yang menarik. Mereka namakan Lampu RUNA.

Lihat koleksi selengkapnya di sini ya.

Masterpiece berikutnya datang dari ranah periklanan. Sebuah campaign dari Faber Castell. Dengan cerdiknya, mereka menggabungkan pensil warna dengan objek-objek yang dekat dengan kehidupan kita. 







Pesan yang ingin disampaikan melalui gambar-gambar tersebut sebetulnya sangat sederhana. Faber Castell hanya ingin menegaskan bahwa pensil mereka mampu menghasilkan warna yang hampir nyata dan sangat persis dengan warna benda-benda aslinya.

Nah, berlanjut ke contoh yang ketiga. Yang ini datang dari ranah social movement, tapi bisa 'nyerempet' ke ranah bisnis juga sih. 

Bagaimana konsep sawah atau kebun yang ada di pedesaan dipadukan dengan gedung-gedung yang ada di kota? 

Pertanyaan tersebut menghasilkan jawaban berupa konsep yang saat ini dikenal dengan istilah Urban Farming - sebuah social movement di mana orang perkotaan pun bisa bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan-lahan terbatas mereka. Baik itu di dalam rumah, maupun mengoptimalkan halaman belakang yang tidak luas-luas amat. Bahkan ada yang berkebun di atas gedung. 



Di samping berbentuk social movement, ada juga yang membawa konsep urban farming ini ke ranah bisnis. Lufa Farm di Montreal, Kanada misalnya. Mereka memanfaatkan lahan kosong di atas gedung perbelanjaan untuk ditanami buah dan sayur lalu menjual hasil panennya secara online. 
Perkebunannya ada di atas gedung


Value yang Lufa Farm usung


Dijual online, tau-tau sampai di depan rumah.

Ide ini pun direspon positif oleh masyarakat perkotaan di Kanada. Mengapa? 

Karena mereka bisa mendapatkan bahan makanan yang fresh, yang dipanen hari itu juga. Sesuatu yang tidak mereka peroleh jika berbelanja di supermarket karena sayur dan buahnya didatangkan dari desa yang mungkin sudah dipanen beberapa hari sebelumnya.

Hmmm, kreativitas itu tidak serumit yang dibayangkan. Lihatlah contoh-contoh di atas, dari ide sederhana, yakni menggabungkan 2 hal yang berbeda menjadi 1, ternyata bisa menghasilkan output yang luar biasa.

Saya harap tulisan ini bisa membantu Anda dalam memancing ide-ide yang keren dan syukur-syukur berguna bagi orang-orang di sekitar. Kalau sudah kepikiran apa idenya, share di kotak comment di bawah ini ya :)

Besok Itu Dimulai Dari Malam Ini


Saya ga jago-jago amat ngomongin produktivitas. 

Tapi saya suka praktiknya. Misalnya, suka bikin to-do list yang isinya beberapa aktivitas penting hari ini beserta kapan aktivitas itu harus dilakukan dan diselesaikan.  

Selain itu, saya juga sering bikin strategi bagaimana cara melakukan pekerjaan A agar lebih cepat selesai, sehingga bisa langsung berlanjut ke pekerjaan B. Dengan cara didelegasikan misalnya. Atau pakai bantuan tools yang bisa meringankan & mempercepat pekerjaan.

Untuk urusan produktivitas, tidak ada yang lebih membahagiakan dari melihat kotak to-do list ter-checklist satu demi satu. Dan kebahagiaan tertinggi adalah pada saat malam hari, ketika melihat to-do list untuk seharian tadi berhasil saya selesaikan semua. 

Siapa yang hidupnya seperti ini juga? Hehe. Toss!

Nah, kebiasaan merencanakan aktivitas sehari-hari ini sudah saya mulai sejak duduk di bangku SMA, walau tidak setiap hari. Tapi begitu kuliah, habit ini makin sering saya lakukan. Hingga sekarang. 

I'm a daily planner.

Terlepas berhasil atau tidak eksekusinya, ter-checklist atau tidak to-do list nya, paling tidak, semua sudah direncanakan di awal. 

Ngomong-ngomong, saya jarang membuat rencana harian atau to-do list di pagi hari, atau saat mengawali hari. Yap, saya lebih suka melakukannya di malam sebelumnya. Jadi, malam-malam sebelum tidur, saya bikin dulu daftar kegiatan apa saja yang akan  dilakukan esok hari. Setelah selesai, barulah tidur. Jadi paginya tinggal action aja.


Saya rasa, cara tersebut sangat efektif. Mengapa?

Karena to-do list atau apapun yang kita pikirkan dan tuliskan menjelang tidur, perlahan akan masuk ke pikiran bawah sadar ketika kita sedang pulas-pulasnya tidur. Lalu pada saat bangun, pikiran akan jauh lebih siap untuk memulai aktivitas yang sudah direncanakan di malam sebelumnya.

Mantap ya. Coba deh mulai malam ini. Buat to-do list sebelum tidur.

Apalagi kalau kita bisa tidur lebih awal dan bangun juga lebih awal. Bakal makin asyik itu efeknya. By the way, sama-sama tidur 5 jam, tapi yang satu tidur jam 12 malem - 5 pagi, sedangkan yang lain tidur jam 10 malem - 3 pagi, sensasinya bakal beda tuh. 

Menurut pengalaman pribadi selama ini, bangun sekitar jam 3 pagi setelah tidur minimal 5 jam, bisa bikin badan & pikiran jauh lebih segar, lebih enteng rasanya. Apalagi jam-jam segitu sangat menenangkan: untuk ibadah, doa, belajar, menulis, ngerjain tugas, dsb. Makanya, ada yang menyebut saat-saat itu sebagai 'golden time' atau 'golden moment'.

Akan tetapi, akan sangat sulit untuk bangun awal kalau mulai tidurnya saja sudah telat. Mulai tidur jam 12 malem atau jam 1 dini hari, tapi ngarep bangun fresh jam 3. Yaa, rasanya sih berat. Yang ada malah pening gak karuan.

Ternyata, kapan kita mulai tidur itu penting sekali.

Dua hal di atas: (1) bikin to-do list sebelum tidur (2) mulai tidur awal dan bangun lebih awal, adalah resep sederhana penentu produktivitas harian.

Bagi saya, awal hari tidak dihitung pada saat kita bangun tidur, tetapi saat kita mulai tidur di malam sebelumnya.

Besok itu dimulai dari malam ini.

STOP Kegiatan Digital, Sesekali Karyakan Tanganmu!


Maaf, tidak seperti artikel lainnya, saya harus sesedikit mungkin mengetik untuk artikel ini. Anda akan tahu mengapa. Sesaat lagi.



Memperbaiki & Memulai Hidup Yang Baru, Hidup Yang Bebas Dari 'Sapi'


Once upon a time, I found a striking book: "Once Upon a Cow".

Jadi, suatu hari saya lagi cari-cari buku di rak perpustakaan rumah (ya, di rumah memang ada mini-library yang isinya buku-buku punya bapak, ibu, adek, dan saya. Setidaknya ada 1000 buku di dalam sana, lumayan lah ya).

Tiba-tiba, mata saya tertuju pada sebuah buku berjudul nyentrik: Once Upon a Cow. Itu buku siapa, saya juga ga tau, mungkin bapak atau adek yang beli. Yaudah, saya buka-buka aja bukunya.

Dan ternyata isinya bagus.

Ditulis oleh Dr Camilo Cruz, buku motivasi & 'self-development' ini, dengan bahasa yang friendly dan penjelasan yang mudah, dapat menjelaskan dengan baik mengapa ada kata 'Cow' di judulnya.
Bukan buku peternakan ya!
Jadi, si Cow atau sapi di buku ini digunakan sebagai gambaran atau metafora dari penghalang atau rintangan yang tidak disadari ada di dalam hidup kita dan membuat kita sulit maju untuk mengejar kehidupan yang lebih baik. Biar lebih mudah dipahami, kita langsung masuk ke cerita saja:

Once upon a time..

ada seorang guru yang bijak, ingin mengajari seorang muridnya bagaimana mencapai hidup yang bahagia dan sejahtera. Karena banyak orang yang hidupnya rata-rata atau biasa-biasa saja, tetapi memilih pasrah membiarkan diri mereka hidup seadanya. Seolah-olah tidak ada harapan atau ke-percaya-diri-an untuk menikmati hidup yang lebih baik lagi.

Sang Guru tentu tidak ingin muridnya ikut terjebak dalam kehidupan yang seperti itu.

Diajaklah muridnya pergi ke suatu desa terpencil. Desa ini dihuni oleh keluarga-keluarga yang miskin, kekurangan, dan terbelakang, pokoknya 'mesakke' deh (jawa: mesakke > indonesia: kasihan).

Guru dan murid tadi berencana untuk menginap 1 malam di desa itu. Maka mereka mencari sebuah rumah yang akan dijadikan tempat beristirahat untuk malam nanti. Alih-alih mencari rumah yang setidaknya paling bagus atau paling mending dari seluruh rumah di desa itu, mereka malah memilih sebuah rumah yang paling jelek, kecil, mau ambrol, dan ... ah, sampe ga tega ngomongnya, hehe.

Diketuklah pintunya, keluar seseorang dari dalam lalu menyapa mereka.


"Bolehkah kami berdua menginap di sini barang semalam saja?" tanya Guru. 
"Rumah ini sudah penuh dan sesak sekali, tetapi boleh saja jika kalian berdua tidak keberatan" jawab pemilik rumah.
Guru dan murid pun tetap bersedia. Maka, dipersilakan masuklah mereka. Dan betapa kagetnya ketika sang Murid mengetahui bahwa ada 8 orang yang tinggal di rumah itu: bapak, ibu, 4 orang anak, kakek, dan nenek. Berdelapan di dalam rumah berukuran 14 meter persegi.

Kebayang bagi-bagi tempatnya kayak gimana?

Tidak cuma itu, penampilan seluruh anggota keluarga itu pun seperti tidak terurus, baju rombeng, badan kurus, kotor seperti jarang mandi, pokoknya prihatin kita kalau liat mereka. Dan, kondisi dalam rumahnya pun sudah seperti mau rubuh, air bisa masuk kalau lagi hujan, sampah di mana-mana, dan tidak ada satupun barang di rumah itu yang berharga.

Tapi, setelah guru dan murid berjalan ke halaman belakang rumah itu, mereka menemukan pemandangan yang janggal. Ternyata keluarga itu memiliki seekor sapi. Yap, lumayan aneh untuk ukuran keluarga semiskin itu punya sapi.

Selidiki punya selidik, sapi itulah yang menghidupi keluarga itu sehari-sehari. Air susunya lah yang selama ini menyelamatkan mereka dari kelaparan, walaupun tetap dirasa kurang. Sapi itu menjaga mereka dari kemiskinan yang parah, karena ternyata, di tempat di mana semua serba kekurangan, memiliki sapi adalah sebuah kehormatan di desa itu. Sehingga, keluarga itu bisa sedikit terhibur meskipun hidupnya sangat menderita dan sebetulnya jauh dari kehormatan itu sendiri.

Malam berlalu, dan sebelum fajar datang, dengan hati-hati sekali sang Guru membangunkan si Murid agar tidak mengganggu tidur yang lainnya. Diam-diam mereka keluar rumah tanpa sepengetahuan keluarga tadi, dan menuju halaman belakang. Apa yang kemudian dilakukan sang Guru?

Dengan pisau besar dan tajam, ia memenggal kepala sapi itu dalam sekali tebas! Sapi itu langsung roboh tanpa suara!

Sudah pasti, muridnya langsung syok dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Speechless, tidak punya daya untuk bertanya pada sang Guru, apa alasannya sapi itu harus dibunuh. Yang ia tahu adalah, sapi itu satu-satunya harta berharga yang keluarga itu miliki, bagaimana cara mereka hidup setelah ini?

Sang Guru tetap kalem, dia mengajak muridnya pulang, meninggalkan rumah dan desa itu segera. Si Murid benar-benar tergoncang dan teraduk-aduk emosinya membayangkan betapa putus asanya keluarga itu setelah mengetahui sapi mereka satu-satunya mati. Perjalanan pulang itu menjadi perjalanan pulang ter-horor bagi Si Murid. Di dalam ketakutan dan kegelisahan, ia terus menerka-nerka, apa maksud semua itu. Ia masih tidak berani bertanya langsung pada gurunya.

Setahun berlalu.

Sang Guru mengajak muridnya kembali ke desa itu untuk mengunjungi lagi rumah yang setahun lalu mereka inapi. Muridnya yang sudah hampir lupa dengan kejadian setahun lalu itu, tiba-tiba kembali gelisah. Semakin dekat perjalanannya ke desa itu, semakin tidak karuan perasaannya. Apa yang akan ia lihat nanti setelah sampai di rumah itu? Masihkah ada penghuninya?

Sampai di sana, betapa terkejutnya murid tersebut setelah melihat rumah yang dulu ia inapi sudah tidak ada!

Bahkan sudah diganti dengan rumah lain yang lebih besar dan lebih bagus. Apakah keluarga itu tergusur? Lalu, di mana mereka sekarang? Sang Guru pun mencari tahu dengan mencoba bertanya pada pemiliki rumah yang baru itu. Ia ketuk pintunya, dan keluarlah seseorang yang ...  tidak asing bagi mereka berdua.

Ternyata dia adalah pemilik rumah yang dulu! Keluarga itu telah berhasil merenovasi rumah mereka menjadi lebih luas, lebih bagus, dan lebih layak huni. Tampilan mereka pun sudah tidak bikin prihatin lagi. Tubuh mereka terlihat sehat dan segar, penampilannya pun jauh lebih baik. Jauh berbeda dengan kondisinya setahun yang lalu. Apa yang sebenarnya terjadi?

Inilah pengakuan salah seorang dari mereka:

Setahun yang lalu, setelah kalian berdua meninggalkan rumah ini, kami mendapat musibah, sapi kami satu-satunya mati terpenggal (keluarga itu tidak tahu bahwa pembunuhnya adalah Sang Guru). Jujur, pada saat itu kami betul-betul terpukul dan hampir putus asa, semakin hari hidup kami semakin menderita. Tetapi kami lama-lama sadar, bahwa hidup belum berakhir dan kami harus melakukan sesuatu agar kondisi bisa membaik.
Orang itu melanjutkan,

Maka, kami mulai membersihkan halaman belakang dan menanaminya dengan sayur-sayuran. Pada awalnya, dari situlah kami bertahan hidup. Tetapi lama-kelamaan, kami menyadari bahwa sayuran yang kami hasilkan lebih dari cukup, dan kami bisa menjualnya ke tetangga-tetangga. Lalu, uang yang kami dapat bisa dipakai untuk membeli benih lebih banyak dan menghasilkan panen yang lebih banyak lagi. Sejak saat itu, perekonomian kami mulai membaik, kami bisa membeli pakaian yang lebih pantas, dan belanja cukup makanan, hingga akhirnya mampu merenovasi rumah ini.

Jeng jeng jeng. Si Murid lega dan terkagum-kagum dengan realita yang ia dengar barusan. Ia sekarang mengerti apa yang gurunya ingin ajarkan kepadanya.

Matinya sapi bukanlah akhir dari segalanya, tetapi justru menjadi awal dari kehidupan baru mereka yang lebih baik. Mungkin mereka akan tetap miskin jika sapi itu masih hidup hingga sekarang. Sapi itu telah menjadi borgol yang mengekang mereka dalam kemiskinan dan hidup yang tanggung. Sapi yang disebut lambang kehormatan itu sudah memberi perasaan bahwa mereka tidak miskin-miskin amat, walau kenyataannya tetaplah menderita. Sapi itu telah membutakan mereka dari harapan mendapatkan kehidupan yang lebih berharga di masa depan.

Maka dari itulah, ia harus dibunuh.

Berapa banyak dari kita yang menganggap apa yang dimiliki sekarang sudah cukup dan membuat berhenti untuk mengejar pencapaian yang lebih baik lagi? Berapa banyak dari kita yang kesannya 'nerimo' walaupun sebenarnya merasa tidak puas? Berapa banyak dari kita yang sebetulnya sudah sangat frustasi tetapi tidak cukup tergerak untuk melakukan sesuatu?

Setiap orang mempunyai sapinya masing-masing dalam hidup ini. Dan tanpa sadar, mereka telah hidup bersama sapi-sapi itu di dalam pekerjaan, karir, dan urusan-urusan lainnya, selama bertahun-tahun. Banyak yang tidak puas dengan kondisi sekarang, tetapi memilih untuk tetap pasrah dalam kehidupan yang seadanya. Toh, masih bisa hidup normal.

Cerita seekor sapi tadi adalah cerita tentang menghapus kebiasaan buruk, alasan, dan keyakinan membatasi yang membuat orang terikat pada kehidupan seadanya. Musuh kesuksesan yang sebenarnya bukanlah kegagalan, seperti yang banyak orang pikir, melainkan kehidupan yang seadanya - pemikiran bahwa kita bisa 'sekedar lewat' dalam hidup ini.

Bagaimana dengan Anda?

Apapun yang sudah terjadi di belakang, biarkanlah berlalu. Mari kita mulai hidup yang baru, hidup yang bebas dari sapi!

Semoga bermanfaat :)


NB: ini baru bagian depan buku ya, di dalamnya dibahas lengkap bagaimana kita mengenali sapi-sapi yang selama ini tidak kita sadari, dari mana sapi sapi-sapi itu datang, sampai bagaimana membunuhnya untuk hidup di zona bebas sapi.

Bagaimana Merancang Business Plan, Event Plan, & Personal Plan Cukup Dengan 1 Halaman Kertas?


Business plan yang ditulis, biasanya menghabiskan 5-10 halaman kertas, bisa lebih. Padahal kalau digambar, bisa cukup dengan 1 halaman aja. 

Business plan yang ditulis pun cenderung membosankan. Selain semua dibuat urut dari bab I sampai bab akhir macam skripsinya mahasiswa, juga dirasa kurang interaktif, dan ujung-ujungnya ga dibaca. Sedangkan dengan menggambarnya, ada potensi untuk lebih menarik, interaktif, dan berujung pada deal.

Salah satu cara menggambarnya adalah dengan menggunakan tools, bernama: Business Canvas / Kanvas Bisnis. Mirip mindmapping sih, tapi sudah ada pola yang memudahkan kita untuk berpikir. Tools ini cukup simpel untuk bisa merangkum seluruh aspek bisnis secara overall. Sebetulnya ga terbatas harus bisnis komersil sih, bisa juga dimanfaatin buat ngerancang event atau organisasi sosial, atau untuk personal branding. Tinggal dimodifikasi aja.

Langsung aja, kita kenalin satu per satu komponennya, yang pertama adalah..

1. Customer Segments (Segmen Pelanggan)

Komponen ini menggambarkan sekelompok orang atau organisasi, atau komunitas konsumen yang ingin dijangkau oleh bisnis kita. Pertanyaan di komponen ini adalah : untuk siapa kita membuat produk / jasa kita? Siapakah pelanggan terpenting kita?

2. Value Propositions (Proposisi Nilai)

Di komponen ini kita harus bisa menjawab: value apa yang akan kita berikan ke pelanggan? Di antara beberapa masalah pelanggan, mana yang kita bantu selesaikan? Kebutuhan pelanggan manakah yang kita penuhi? Gabungan produk/jasa apakah yang kita tawarkan pada masing-masing segmen pelanggan?

3. Channels (Saluran)

Komponen ini membantu kita untuk memikirkan bagaimana kita bisa berkomunikasi dan menjangkau segmen pelanggan kita (Customer Segments) untuk memberikan produk/jasa kita (Value Propositions). Melalui saluran manakah mereka ingin dijangkau? Saluran mana yang terbaik dan paling efisien? Bagaimana kita mengintegrasikan saluran tersebut dengan kebiasaan pelanggan?

4. Customer Relationships (Hubungan Pelanggan)

Jenis hubungan apakah yang diharapkan masing-masing segmen pelanggan untuk kita bangun demi mempertahankan mereka? Lewat hubungan personal kah? Lewat komunitas kah?

5. Revenue Streams (Aliran Pendapatan)

Untuk value / nilai apa sajakah pelanggan benar-benar mau membayar? Dari mana saja sumber pemasukan kita? Bagaimana cara pembayaran mereka? Mekanisme penetapan harganya?

6. Key Resources (Sumber Daya Utama)

Sumber daya utama apa saja yang kita butuhkan untuk mendukung value produk / jasa kita? Untuk mendukung saluran distribusi kita? Untuk mendukung hubungan pelanggan kita? Sumber daya utama yang biasanya dibutuhkan untuk mendukung komponen bisnis adalah: fisik, intelektual, manusia, atau finansial.

7. Key Activities (Aktivitas Kunci)

Apa sajakah aktivitas kunci yang diperlukan untuk menunjang Proporsi Nilai kita? Saluran Distribusi kita? Hubungan Pelanggan kita?

8. Key Partnerships (Kemitraan Utama)

Siapa sajakah mitra utama kita? Siapa pemasok utama kita? Sumber daya utama apa yang bisa kita dapat dari mitra kita? Aktivitas Kunci apa yang bisa dilakukan mitra kita?

9. Cost Structure (Struktur Biaya)

Biaya terpenting apakah yang ada dalam model bisnis kita? Sumber Daya Utama manakah yang butuh biaya? Aktivitas Kunci manakah yang butuh biaya?

Nah, gabungan 9 komponen itulah yang disebut Business Canvas. Kalau digabung, jadinya gini:

Kita bisa bikin sesuai keinginan dan kreasi kita, selembar kertas dengan gambar yang representatif, tinggal kita lengkapi dengan presentasi secara lisan, contohnya:

Pada penerapan yang lain, bisa juga dengan menggunakan selembar kertas / papan tulis dan lembaran Post-It warna-warni. Kita bisa diskusi secara interaktif dengan partner bisnis melalui cara ini:

Dan, udah ada aplikasi mobile nya juga buat kita yang suka otak atik business canvas di tablet, download sekarang:

Cobain ya, bisa buat otak-atik business plan sendiri, atau nganalisa model bisnisnya kompetitor. Buat ngrumusin inovasi bisnis juga bisa. Koq bisa? Karena cukup dengan mengganti 1 komponen saja, misalnya: Segmen Pelanggan, sebenarnya akan mempengaruhi komponen lainnya: Saluran Distribusi bisa berubah, jenis Hubungan Pelanggannya ikut berubah, Revenue dan Cost juga begitu, karena memang komponen-komponen tersebut saling berhubungan.

Menariknya, kita bisa mulai dari komponen manapun, ga harus dari Customer Segment dulu. Dari produk / jasa (Value Propositions) yang kita punya dulu pun bisa, dari sumber daya (Key Resources) yang kita punya pun bisa. Ga perlu urut dan runut. Sekali lagi, karena mereka saling berhubungan. Seru kan?

Gimana, udah ada ide? Siap nggambarin ide itu di Kanvas Bisnismu? Good Luck! :)